Gangguan Mata Miopia Pada Anak Usia Sekolah
Mata
merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sangat penting dan berpengaruh
besar terhadap kualitas hidup masyarakat. Seseorang dapat melakukan berbagai
hal dalam hidupnya dengan melihat. Ini memiliki dampak yang tinggi pada tingkat
produktivitasnya.
Pada
organ mata terdapat bagian-bagian di dalamnya, teridri dari kelopak mata,
selaput mata, kornea, bilik mata depan, iris dan pupil, lensa, badan kaca,
retina dan saraf optik serta makula.
Lensa
mata merupakan bagian dari mata yang menerima cahaya dari pupil dan meneruskannya
ke retina. Lensanya sendiri cembung, di bagian belakang dan depan. Lensa ini ditutupi
dengan selaput yang posisinya berada di belakang iris.
Fungsi lensa mata adalah untuk mengatur fokus
cahaya agar cahaya mengenai titik kuning pada retina. Fungsi lensa mata ini
sangat berpengaruh terhadap kualitas penglihatan. Saat ingin melihat objek yang
jauh (cahaya datang dari jauh), lensa mata menjadi lebih tipis. Sebaliknya,
saat ingin melihat benda dekat (cahaya dekat), lensa mata akan menebal.
Terdapat
beberapa penyakit pada lensa mata, yaitu kelainan refraksi maupun katarak. Kelainan
refraksi merupakan suatu kondisi dimana bayangan tegas tidak terbentuk pada
retina (makula lutea atau bintik kuning). Penderita penyakit ini,
mengalami ketidakseimbangan pada sistem
optik mata, sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Kelainan refraksi
meliputi rabun jauh (miopia) atau sering disebut mata minus, rabun dekat (hypermetropia),
silinder (astigmatisma), dan mata tua. Seseorang yang mengalami kelainan
refraksi ini akan terbantu dengan alat bantu penglihatan seperti kacamata dan
lensa kontak. Prosedur lasik diperlukan untuk menyembuhkannya secara permanen
sehingga penderitanya tidak harus memakai kacamata atau lensa kontak.
Jumlah
anak yang menderita miopia (mata minus) meningkat di seluruh dunia. Organsisasi
Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan pada tahun 2050 setengah dari populasi
dunia akan menderita miopia. Tak terkecuali di Indonesia, kasus gangguan mata
pada anak usia sekolah semakin meningkat. Di masa pandemi, sekolah dialihkan
ke dalam sistem sekolah daring (online). Seluruh siswa dipastikan untuk dapat mengakses
materi melalui gadget. Data Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan perlindungan Anak menunjukkan bahwa 10% dari 66 juta anak usia
sekola (5-19 tahun) ternyata mengalami gangguan mata akibat kelainan refraksi. Dilansir dari Tribunnews, 25% dari 250 siswa
dan guru di SMPN 10 Yogyakarta yang diperiksa matanya ternyata harus memakai
kacamata minus. Hal ini menandakan bahwa kasus gangguan penglihatan rabun jauh
(myopia) pada anak usia sekolah dasar adalah fenomena penting yang harus ditanggapi
dengan serius oleh seluruh pihak.
Menurut
penelitian, ada dua faktor utama penyebab miopia, yaitu faktor genetik dan
faktor kebiasaan. Studi tentang gen penyebab miopia saat ini sedang dilakukan
di beberapa pusat penelitian berbeda di seluruh dunia, termasuk Singapura.
Penelitian
tentang gen yang berkaitan dengan miopia masih terus dikembangkan dengan
harapan suatu saat dapat menjadi cara alternatif untuk mencegah dan mengobati
miopia. Anak-anak yang orang tuanya menderita miopia dikatakan memiliki risiko
lebih tinggi terkena miopia. Namun hal ini dipengaruhi oleh faktor makanan,
lingkungan, kebiasaan dan faktor eksternal lainnya. Faktor lain penyebab miopia
adalah faktor lingkungan dan kebiasaan masa kecil.
Pembatasan
aktivitas di luar ruangan selama pandemic membuat anak cenderung aktif dalam menggunakan
gadget. Kesulitan melihat jarak jauh menjadi tanda bagi penderita rabun jauh
(miopia) ini. Selain itu, gejala miopia pada anak juga dapat terlihat saat anak
sering mengalami sakit kepala, mata tegang, menyipitkan mata, atau bahkan
postur kepala yang tidak normal.
Oleh
karena itu, disarankan kepada setiap orang untuk melakukan konsultasi atau
pemeriksaan mata minimal enam bulan sekali untuk mendeteksi lebih dini jika
terdapat gangguan pada mata agar menghindari tingkat keparahan yang lebih
tinggi. Selain itu, perlu dilakukan pembatasan serta pengawasan pada penggunaan
gadget bagi anak usia sekolah oleh pendamping atau orang tua, agar tidak
berdampak panjang di kemudian hari.
Komentar
Posting Komentar